Setiap Orang Membutuhkan Nasehat ( Guru Ruhani 29)

Syukur dan Dzikir adalah wajib bagi semua orang¡K Adzkuruni adzkurkum,
wasykuruli wa la takfurun. Itu adalah suatu perintah. Orang lupa karena dunia
dan egonya. Dzikir membimbing mereka. Ada yang disebut Dzakirin dan Sahibul
Irsyad. Sahibul Irsyad atau Mursyid memberi cahaya dari Malakut kepada mereka
yang berada dalam kegelapan. Rasulullah bersabda, ¡§Waspadalah kepada
orang-orang yang beriman karena mereka berjalan dalam cahaya Allah dan melihat
yang terbuka dan yang tersembunyi, karena mereka tidak mempunyai hijab
(penghalang) lagi.

Pada Hari Kiamat orang-orang akan bertanya kepada mereka yang mempunyai cahaya,
bagaimana mereka bisa mendapatkannya, karena mereka membutuhkannya di dalam
kegelapan. Tetapi itu sudah terlambat. Seorang hamba harus meraihnya di sini.
Oleh sebab itu Allah ƒnmenurunkan kitab dan memberi cahaya kepada Rasululullah
saw. Barang siapa yang meraih cahaya itu maka dia menjadi orang yang beriman
sedangkan yang lain tetap berada dalam kegelapan dan kekafiran. Para Sahabat
mengambil cahaya itu dari Rasulullah, para Tabiin mengambilnya dari para Sahabat
dan seterusnya. Orang-orang yang suci membawa Cahaya Ilahi, Nurullah. Sampai
sekarang, Allah ƒntidak meninggalkan ummat tanpa cahaya, dan hal ini akan terus
berlangsung hingga Yaumul Qiyama. Setiap orang menerima cahaya sebanyak yang dia
butuhkan dari orang-orang suci.

Setiap orang membutuhkan nasihat. Sehingga jika kalian melakukan langkah yang
salah, kalian akan ingat kembali dan kembali lagi. Tetapi semua orang ingin
hidup seperti yang diinginkan oleh ego mereka tanpa melihat Kehendak Allah swt.
Oleh sebab itulah bencana menimpa ummat. Semoga Allah memberi kita bimbingan:
Allaahummahdina fima hadayt¡K(Do¡¦a Qunut). Allah ƒntidak memberi 'izz kepada
musuh-musuh-Nya. Kita membaca do¡¦a ini setiap pagi, tetapi kita tidak
memikirkannya. Kita tertidur dan kita berada dalam bayangan, bukan dalam 'izz.
Yahudi hidup sesuka mereka dan kita meniru cara berpakaian mereka. Semoga Allah
membimbing kita kembali ke jalan yang benar dan mengirimkan seorang yang membawa
kita kembali kepada syari¡¦ah. Kita harus menunjukkan kekuatan kita, banyak
sekali negeri Muslim. Mereka tidak memberi bilangan yang benar kepada Muslim.
Ada dua milyar dan mereka mengucapkan syahadat 5 kali sehari¡K

Oleh sebab itu kita harus menyingkirkan mitra itu dari singasananya, dan
seluruh Rasul dikirim kepada umat manusia untuk mengajari mereka bagaimana
melakukan tugas itu. Kita membutuhkan latihan dari seorang yang mampu
menghadapi kemauan egonya, yang bisa menjinakkan egonya sehingga tidak lagi
menyita terlalu banyak perhatian atau menjadi terlalu baik padanya. Sebelum
sampai di sana, kamu harus waspada bahwa kamu juga seorang penyembah berhala
yang rahasia, sehingga hatimu akan terkunci untuk mendapatkan rahmat dari
Pengetahuan Allah.

Dengan menjadi teman dari orang yang telah menyadari betapa bahayanya
permainan yang dimainkan oleh ego, dan kemudian mampu menghindari dirinya dari
dominasi ego, para pencari kebenaran mungkin telah sampai pada sasarannya. Oleh
sebab itu Rasul terakhir, Muhammad saw, mengajari para sahabat dengan memasukkan
mereka ke dalam sebuah asosiasi atau majelis dengannya. Oleh sebab itu, para
nabi terdahulu, guru-guru Naqasybandi menekankan pentingnya ¡§Sohbet¡¨,
berasosiasi dengan Syaykh, sebagai pilar utama dalam melatih para pengikutnya.
Lebih lanjut beliau menyatakan bahwa jika seorang menghadiri majelis tariqat
seperti ini walau hanya 5 atau 10 menit, dia akan mendapatkan keuntungan
spiritual yang banyak sekali yang nilainya sama dengan yang didapat dari
melakukan ibadah sunnah selama 7 tahun.

Itulah besarnya kekuatan dari asosiasi para Nabi terdahulu. Kekuatan itu bisa
bertambah kuat dengan kebersamaan orang-orang yang hadir dalam pertemuan itu
dalam menyatukan hati dengan hati Syaykh-nya. Kekuatan itu merasuk ke hati
setiap orang sehingga dapat menarik bentuk penyembahan ego yang tersembunyi
hingga ke akar-akarnya. Kalian boleh mengamati bahwa dengan setiap pertemuan
ini kekuatan ego akan melemah. Grandsyaykh menerangkan bahwa tanpa asosiasi
sangat sulit untuk menarik ego keluar dari permainannya, untuk mengenali
tipuan-tipuannya dan melarikan diri dari genggamannya. Kita membutuhkan
bimbingan yang dapat menunjukkan jalan bagi kita untuk melewati karang,
khususnya karena jejak itu yang sangat diinginkan oleh ego, tampak dari adanya
rambu-rambu seperti, ¡§Lewat Sini¡¨ , atau ¡§Jalan Pintas¡¨, yang kamu pikir
semuanya baik-baik saja. Ego mendatangi dan menasehatimu, ¡§Jika kamu melakukan
ini, mungkin ada hasilnya, jika itu, ini. Ini cocok, tetapi yang itu
tidak.¡¨, dan dengan ¡¥nasihat yang baik¡¦ itu ego mencari kesempatan untuk
melemahkan hati kamu, untuk memalingkan diri dari Allah Yang Maha Kuasa.

Tetapi ketika kamu berasosiasi dengan Syaikh, ego dan apa yang dilakukannya
dengan cepat akan dikenali dan menjadi nyata. Penyamaran ego dapat dengan mudah
diketahui, sehingga di depanmu dia seperti berdiri, telanjang, dan terekspos.
Kamu akan terkejut dan tiba-tiba berkata, ¡§Itu tidak lain adalah egoku! Dia
benar-benar rapi dalam penyamarannya sehingga aku menjadikannya sebagai
penasehat yang sangat penting dan mulia, tetapi kini aku dapat melihatnya sama
saja seperti bajingan lainnya.¡¨

Berjamaah atau Asosiasi dengan Syaikh ini dapat membantumu mengerti dan
menyadari kesalahanmu, lalu jika kamu bisa mengatasinya dan meninggalakan
karakter buruk itu, dan meningkatkan dirimu barulah kamu dapat mengalami
kemajuan pesat. Hal lain yang harus dimengerti adalah di mana pun kalian
mengadakan majelis karena Allah, menyatukan hati dengan Guru-guru tariqat
Naqshbandi, maka pertemuan itu akan sama saja tingkatannya dengan asosiasi yang
baru saja gambarkan tadi. Jangan membuat kesalahan dengan berpikir bahwa
satu-satunya pertemuan yang bermanfaat adalah pertemuan di mana Syaykh hadir
secara fisik.

Ketika kita saling bertemu, salah satu dari kita mungkin merupakan penghubung
bagi masuknya inspirasi dari Syaykh: seseorang harus berbicara dan yang lainnya
mendengarkan, seseorang harus menerima dari Syaykh dan yang lain melalui dia
dari Syaykh. Tariqat Naqshbandi adalah Jalan Sufi yang sangat kuat dalam
menjalankan kebiasaan-kebiasaan Rasulullah saw, dan asosiasi seperti ini adalah
salah satu kebiasaan beliau, dan juga jalan dari para sahabat, sebagaimana
beliau selalu menunjuk seorang pemimpin untuk menggantikannya ketika beliau
berhalangan hadir.

Ya, seorang harus berbicara dan yang lain mendengarkan. Dengan cara ini semua
pertemuan dengan saudara-saudara kita akan diberkati. Jika lebih dari seorang
yang berbicara, atau jika ada argumentasi dan saling mengklaim, maka tidak ada
kekuatan spiritual dalam pertemuan itu dan hati kita akan tetap dingin. Oleh
sebab itu, jika kita mengindikasikan bahwa salah satu saudara kita akan
melakukan asosiasi dalam suatu pertemuan, maka yang lain harus mendengarnya.
Ketika kamu mendengarnya, dia akan mampu menerima inspirasi dari Grandsyaykh
yang hatinya berhubungan dengan Rasulullah saw, dan hati Rasulullah selalu
berhubungan dengan Allah swt. Dengan cara ini Allah akan membantu orang itu dan
melimpahkan Berkah-Nya yang tidak terbatas, juga Rahmat, Pengetahuan, dan
Samudra Kenikmatan-Nya, jadi melalui kata-katanya, orang yang hadir dalam
pertemuan itu akan dibimbing menuju tujuannya masing-masing.

Ketika seseorang diminta untuk berbicara mewakili Syaykh di mana pun dan kapan
pun, bisa jadi ada seratus, seribu, atau sejuta orang yang mendengarkannya dan
setiap orang masing-masing dapat mengambil pelajaran apa yang dia butuhkan.
Adalah mustahil jika seseorang berbicara atas nama Syaykh tanpa ada yang
memperoleh keuntungan dari pembicaraannya itu, sebaliknya setiap orang akan
mengambil bagiannya.

Selama sekitar 40 tahun saya berasosiasi dengan Grandsyaykh, dan saya terbiasa
untuk menuliskan kata-katanya. Kalau dihitung-hitung semuanya lebih dari 7000
sohbet. Beliau sangat baik dengan sahabatnya dan dalam memberikan
kebijaksanaanya, bahkan walaupun hanya satu orang yang hadir, beliau akan duduk
dengannya dan mengajarinya. Beliau juga biasanya berbicara kepada orang banyak
dengan cara yang mudah, tidak pernah kehilangan kata-kata ketika berbicara
dengan seseorang atau sekelompok orang, baik anak-anak atau dewasa, laki-laki
atau perempuan, pemuda dan orang tua, warga kota yang berpendidikan atau
penduduk desa, beliau dapat menyampaikan pesan kepada mereka menurut kapasitas
pikirannya, berbicara kepada mereka sesuai dengan tingkatannya, meskipun pada
kenyataanya beliau sendiri buta huruf. Hal ini adalah mungkin karena ilmunya
tidak diturunkan dari buku-buku, melainkan dari hati, dan lewat hatinya mengalir
segala yang kita butuhkan.



Wa min Allah at Tawfiq

0 komentar:

Poskan Komentar